Showing posts with label Lensa. Show all posts
Showing posts with label Lensa. Show all posts

Thursday, December 2, 2010

Memilih lensa sapujagat



Banyak orang yang tidak ingin direpotkan dengan ritual ganti-ganti lensa dan membawa lensa tambahan, oleh sebab itu, lensa sapujagat lahir. Lensa ini memiliki jangkauan fokus yang luas, dari lebar sampai panjang (tele).

canon-350d-tamron-18-250mm
Kamera pemula Canon dan lensa Tamron 18-250mm, kecil2 tapi jangkauannya panjang
Di pasaran, lensa model ini ada yang mahal dan ada yang murah, ada yang kualitasnya baik, ada yang kualitasnya buruk.

Inilah lensa sapujagat yang saya rekomendasikan:

1. Nikon 18-200mm VR f/3.5-5.6 VR versi II – harga sekitar 6.5 – 7 juta

Kalau memakai kamera Nikon, lensa ini bisa dibilang yang terbaik dari kualitas foto dan desain bodinya. Performa auto fokus juga bisa diandalkan. Kualitas fotonya sangat baik dan tajam di 18-70mm, setelah itu kualitasnya akan merosot terutama antara 135-200mm. Selain itu, harganya relatif tinggi dan mungkin lebih mahal dari kamera Anda.

2. Canon 18-200mm f/3.5-5.6 IS – harga sekitar 5.5 – 6 juta

Kualitas foto mungkin tidak setajam Nikon di 18-70mm, tapi secara keseluruhan, lensa ini lebih konsisten dari Nikon, terutama untuk foto jarak jauh (tele). Harganya juga jauh lebih murah. Sayangnya auto fokusnya masih mengunakan teknologi lama, jadi masih ada suara dan kurang cepat. Untuk pengguna kamera Canon, lensa ini adalah pilihan terbaik.

3. Tamron 18-270mm f/3.5-6.3 VC Macro – harga sekitar 5 juta

Lensa ini adalah lensa dengan jangkauan paling jauh dibandingkan dengan lensa diatas. Kualitas foto cukup baik dari 18-135mm setelah itu agak menurun terutama di ujungnya, yaitu 200-270mm. Lensa ini layak menjadi pilihan bila Anda ingin memiliki lensa yang berjangkauan sangat jauh, seperti foto satwa liar (wildlife).  Kekuranganya (seperti lensa Tamron secara umum) terletak pada performa auto fokus yang sedikit berisik dan sering gagal mengunci subjek foto.

4. Tamron 18-250mm f/3.5-6.3 Macro – harga sekitar 3 juta

Harga paling murah, bukan berarti paling jelek, tapi sebaliknya, kualitas foto lebih konsisten daripada lensa Tamron 18-270mm diatas dan Sigma 18-250mm dibawah. Ukurannya juga lebih kecil dan ringan, cocok untuk dibawa jalan-jalan. Kekurangannya adalah tidak memiliki built-in stabilizer, jadi pengguna kamera Canon / Nikon agak kesulitan bila foto di ruangan yang gelap.

5. Sigma 18-250mm f/3.5-6.3 OS HSM – harga sekitar 5 juta

Desain lensa ini dan performa auto fokusnya lebih cepat, hampir tidak bersuara dan lebih akurat dari lensa-lensa Tamron diatas. Tapi kualitas fotonya malah kurang konsisten. Misalnya di jarak fokus 18mm foto tajam, tapi di 50mm, tidak tajam.

Catatan: Lensa Tamron, Sigma tersedia untuk kamera Nikon, Canon, Sony dan Pentax.

Friday, November 26, 2010

Bedanya lensa AF-S 55-200mm dan 55-300mm

Seiring dengan peluncuran DSLR Nikon D3100, Nikon juga meluncurkan empat lensa baru, tiga diantaranya berformat FX dan satu DX. Lensa DX yang diluncurkan kali ini masuk ke kelompok lensa tele-zoom murah meriah yang bernama AF-S DX 55-300mm f/4.5-5.6 ED VR. Rentang fokal yang ditawarkan memang cukup mengesankan dengan total zoom 5,5x zoom. Sebagai info, sebelumnya Nikon sudah punya lensa tele murah yang populer yaitu AF-S 55-200mm dan lensa tele FX yaitu AF-S 70-300mm. Bagaimana posisi lensa ini diantara dua lensa lain yang lebih dahulu ada, simak ulasan saya selengkapnya.

 Dulu : AF-S 55-200mm vs AF-S 70-300mm

Perbedaan antara AF-S 55-200mm dan AF-S 70-300mm cukup jelas. Selain berbeda harga (2 jutaan vs 4 jutaan), rentang fokal keduanya juga berbeda. Namun ingat kalau AF-S 55-200mm adalah lensa DX sedangkan AF-S 70-300mm adalah lensa FX. Bila lensa 55-200mm dipasang di kamera DX (seperti D40 sampai D300) maka fokal efektif lensa tersebut akan setara dengan 82.5-300mm sehingga hampir sama dengan lensa 70-300mm yang dipasang di kamera FX (misal D700 atau D3). Masalahnya adalah, banyak dari pemakai kamera Nikon DX yang ingin merasakan kemampuan tele zoom yang lebih dari 200mm, sehingga mereka ‘terpaksa’ membeli lensa 70-300mm hanya demi bisa merasakan kemampuan tele 300mm (450mm eqiv.).  Padahal lensa AF-S 70-300mm ini selain punya dimensi yang panjang (14 cm) juga berat (740 gram) bandingkan dengan lensa AF-S 55-200mm (10 cm, 330 gram).
 
nikkor-55-300mm-f4_5-5_6
Nikkor AF-S 55-300mm f/4.5-5.6 VR

 

Kini : AF-S 55-200mm vs AF-S 55-300mm

Hadirnya lensa Nikon AF-S 55-300mm VR ini menjadi solusi bagi anda yang mencari lensa DX dengan kemampuan tele yang lebih dari 200mm, tanpa memberatkan anda saat membawanya. Mengapa? Karena lensa ini hanya memiliki panjang 12cm dan berat 500 gram, benar-benar berada pas diantara lensa 55-200mm yang mungil dan 70-300mm yang panjang. Rahasia dibalik ukurannya yang relatif kecil adalah digunakannya elemen lensa High Refractive Index (HRI) yang mampu menjaga dimensi lensa keseluruhan tetap ringkas.

af-s-55-300-mtf

Sepintas lensa 55-300mm ini tampak tidak banyak berbeda dengan lensa 55-200mm, baik dalam segi desain maupun fitur. Keduanya adalah lensa tele ekonomis yang sudah dilengkapi fitur SWM dan VR. Namun keduanya juga tergolong lensa zoom lambat (bukaan kecil) yang tidak cocok dipakai dalam kondisilow-light. Sayangnya keduanya menempatkan ring fokus di bagian depan lensa yang menyulitkan untuk manual fokus. Tapi jangan kecewa dulu, karena hal-hal tadi memang wajar untuk lensa semurah ini. Sekarang saya paparkan hal-hal istimewa yang tak semestinya dijumpai di lensa yang murah ini :
  • memiliki elemen lensa sebanyak 17 elemen yang tersusun atas 11 grup (2 diantaranya lensa ED dan 1 lensa HRI)
  • memakai teknologi VR generasi ke-II yang diklaim mampu bekerja hingga 4 stop
  • memakai 9 blade diafragma, bukaan maksimum f/4.5-5.6 dan minimum f/22-29
  • memakai motor SWM untuk auto fokus yang cepat dan halus
  • memakai mount logam (bukan plastik)
Selain berbeda di rentang fokal, perbedaan lain antara lensa 55-300mm dengan 55-200mm diantaranya :
  • 55-300mm punya bukaan maksimum f/4.5 atau lebih kecil dari 55-200mm yang bisa membuka f/4 (dalam hal ini artinya 55-200mm lebih unggul sedikit)
  • 55-300mm memakai diameter filter 58mm atau lebih besar dari 55-200mm yang diameternya 52mm (70-300mm memakai filter 67mm)
  • 55-300mm pakai mount logam (55-200mm pakai mount plastik)
Satu hal yang agak disayangkan dari lensa 55-300mm ini menurut saya adalah harga perkenalan awal yang terlalu tinggi (kini sudah berkisar di angka 3 jutaan) yang mendekati harga lensa 70-300mm saat ini. Padahal lensa 70-300mm yang dijual seharga 4 jutaan ini punya banyak kelebihan dibanding lensa 55-300mm seperti :
  • format FX -> bisa untuk DSLR full frame
  • sistem Inner Focus (IF)
  • kualitas optik yang lebih baik
  • bisa manual focus override
  • kinerja motor SWM yang lebih cepat
  • mode VR ada active dan normal
Jadi bila anda punya dana 4 jutaan, saat ini sudah sangat perlu lensa tele zoom yang mampu menjangkau hingga 300mm (450mm eqiv.) dan tidak masalah dengan bobot lensa, saran saya tetaplah memilih lensa AF-S 70-300mm VR. Namun bila anda awalnya ingin membeli lensa AF-S 55-200mm tetapi merasa perlu rentang antara 200mm hingga 300mm, dan mencari lensa yang ringan dan praktis untuk dibawa bepergian, lensa AF-S 55-300mm ini sudah mulai tersedia di pasaran. Tentu saja untuk itu perlu menambah sejumlah dana karena perbedaan harga AF-S 55-200mm dan AF-S 55-300mm cukup mencolok (2 jutaan vs 3 jutaan). Namun bila anda tetap merasa lensa AF-S 55-200mm saja sudah mencukupi untuk kebutuhan fotografi anda, mengapa tidak? 

Monday, November 22, 2010

Perbedaan antara lensa berkualitas tinggi dan rendah

Lensa berkualitas tinggi biasanya memiliki badan / casing yang berkualitas lebih baik, misalnya dari campuran logam atau plastik yang keras. Kontak lensa ke badan kamera juga dari logam.
Selain itu bukaan lensa zoom berkualitas tinggi biasanya memiliki bukaan besar dan/atau konstan seperti f/4, f/2.8. Untuk lensa prime / non-zoom, lensa yang berkualitas tinggi biasanya memiliki maksimum bukaan yang besar, misalnya f/1.2 dan f/1.4.
Hal lain yang membedakan adalah kode pada nama lensa. Contohnya: Tamron: SP, Sigma: EX, Canon: L, Tokina: Pro, Nikon: N.
Salah satu lensa kualitas tinggi Canon berlabel L dan berwarna putih. Lensa ini memiliki harga sekitar dua puluh juta rupiah.
Salah satu lensa kualitas tinggi Canon berlabel L dan berwarna putih. Lensa ini memiliki harga sekitar dua puluh juta rupiah.

Lalu kualitas lensa juga bisa dilihat dari harga seperti dibawah ini:
  • 2 juta kebawah : Lensa murah dengan kualitas rendah, biasanya casingnya berbahan plastik dan kualitas fotonya tidak begitu tajam dan tidak konsisten.
  • 2 juta keatas : Kualitas lensa rata-rata. Meski banyak yang masih bercasing plastik, tapi kualitas gambar lebih baik dan lebih konsisten.
  • 5 juta keatas : Kualitas lensa diatas rata-rata. Kualitas bahan kamera lebih baik dari sebelumnya, beberapa mengunakan bahan logam, yang lain mengunakan bahan plastik yang tebal. Kualitas foto juga sudah cukup konsisten dan tajam.
  • 10 juta keatas : Kualitas lensa sangat baik. Termasuk kategori lensa mewah karena lebih mahal dari kameranya, lensa dalam kategori ini memiliki kualitas foto yang sangat baik, konsisten tapi biasanya cukup berat.
Tapi ada juga beberapa lensa yang menghasilkan foto yang sangat baik tapi relatif murah, contohnya lensa 50mm f/1.8, dan 35mm f/1.8.

Dari kualitas gambar, Lensa berkualitas tinggi lebih konsisten di setiap bukaan dan rentang lensa (zoom). Ketajaman lensa tinggi, kontras baik, rendah aberasi warna dan vinyet terkontrol.

Sunday, November 21, 2010

Peranan filter di dunia digital fotografi

Filter UV, Fluorescent dan Polarizer
Filter UV, Fluorescent dan Polarizer
Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan sedikit banyak tentang filter dan kenapa saya tidak mengunakannya.

Untuk yang belum pernah mendengar aksesoris fotografi ini, filter adalah sebuah lensa yang biasanya berbentuk bulat dan bisa di pasang di depan lensa kamera.

Di era kamera analog / film, penggunaan filter sangat membantu sekali, tapi di era digital, penggunaan filter tidak sepenting dulu.
Mengapa demikian? semua ini terkait dengan fungsi filter. Sebagian filter berguna untuk menyaring warna, menambah kontras, dan membuat efek tertentu seperti melembutkan foto. Nah, di era digital sekarang, kita lebih mengunakan software untuk menyaring warna seperti Adobe Photoshop , Lightroom, Aperture dan lain-lain.

Contoh lens flare
Contoh lens flare

Sebenarnya ada juga kegunaan filter yang bagus di jaman digital, yaitu untuk melindungi bagian depan lensa dari goresan, benturan dan lain. Namun kalau Anda memakai filter yang berkualitas rendah, biasanya itu malah mengurangi kualitas foto misalnya ketajaman dan kontras. Filter yang kurang berkualitas juga membuat foto yang dihasilkan beresiko kena flare (lihat ilustrasi).

Jadi, kalau ingin memakai filter, jangan terburu-buru membeli filter yang murah, tapi belilah yang berkualitas.

Beberapa jenis filter populer dan kegunaannya:

UV/ultraviolet: untuk menyaring sinar ultraviolet / keunguan. Filter ini sangat populer digunakan untuk outdoor maupun sekedar melindungi lensa.

Polarizer: Filter ini berfungsi membuat warna biru lebih dalam dan kontras, dan juga mengurangi refleksi pada permukaan seperti kaca dan air.

contoh-filter-polarizer
Kiri: tanpa filter, Kanan: dengan filter Polarizer, warna biru langit menjadi lebih gelap dan keluar

Filter Polarizer juga efektif mengurangi refleksi
Filter Polarizer juga efektif mengurangi refleksi

Neutral Density (ND): Filter ini berfungsi mengurangi cahaya yang masuk. Biasanya digunakan supaya kita bisa mengunakan bukaan lensa yang besar di lingkungan cahaya yang terang di luar ruangan.


Dengan mengunakan filter bergradasi dengan benar, kita bisa menyeimbangkan eksposur langit dengan permukaan bumi
Dengan mengunakan filter bergradasi dengan benar, kita bisa menyeimbangkan eksposur langit dengan permukaan bumi

Graduated Neutral Density: Filter ini berfungsi mengurangi cahaya yang masuk tapi bergradasi sampai setengah dari lensa. Biasa digunakan untuk foto pemandangan, untuk menyeimbangkan warna langit dengan permukaan bumi. Di era digital, banyak fotografer mengunakan teknik HDR (high dynamic range) untuk menghasilkan efek yang sama.

Diffusion / Soft: Filter untuk memberikan efek difusse / lembut. Di era digital, fotografer mengandalkan software untuk membuat efek ini.

Color correction: Untuk menyaring warna-warna tertentu seperti warna lampu tungsten. Filter-filter ini sudah jarang digunakan karena di era digital, kita dengan mudah mengubah setting white balance.

Close-up / Macro: Filter yang membuat Anda bisa fokus lebih dekat dengan subjek. Salah satu cara murah untuk mengubah lensa Anda menjadi lensa makro. Tapi tentunya hasilnya tidak sedetail dan setajam lensa khusus makro.

Mudah-mudahan tulisan ini cukup jelas dan membantu teman-teman sekalian dalam menentukan untuk mengunakan jenis filter tertentu atau tidak sama sekali.

Monday, November 8, 2010

Biasanya, orang-orang mengunakan lensa telefoto untuk memperbesar subjek di kejauhan, tapi sebenarnya masih banyak fungsi lensa telefoto yang lain. Artikel ini akan membahas segala tentang lensa ini.
Pertama-tama, mari kita definisikan apa yang termasuk lensa telefoto. Menurut saya sebuah lensa dianggap sebagai lensa telefoto bila memiliki rentang fokal 60mm atau lebih (ekuivalen kamera full frame). Lebih lebar dari 60mm, termasuk lensa standar atau lensa lebar.
Ada dua tipe lensa telefoto: satu adalah lensa telefoto yang tidak bisa zoom, seperti Canon EF 85mm f/1.8. Yang kedua adalah lensa zoom, seperti Canon 70-200mm f/4 L. Lensa yang bisa zoom lebih multi fungsi, tapi yang tidak bisa zoom biasanya memiliki bukaan maksimal yang lebih lebar, berukuran kecil dan lebih lebar. Ada juga lensa sapu jagad, yang memiliki rentang fokal dari lebar sampai telefoto. Contohnya lensa 18-200mm.

Mari kita kupas karakter lensa telefoto.

Memperbesar subjek foto

Karakter yang paling menonjol dari lensa telefoto adalah membesarkan subjek di kejauhan. Karakter ini membuat lensa telefoto menjadi sering digunakan untuk fotografi olahraga, satwa liar, arsitektur, pemandangan atau subjek lain dimana Anda tidak bisa mendekati lebih dekat lagi. Lensa telefoto juga ideal untuk mengambil gambar secara candid, karena saya bisa mengambil gambar dari kejauhan tanpa diketahui oleh orang yang diambil gambarnya.


Dengan mengunakan lensa telefoto, penari yang berada jauh dari kita terlihat besar dan dekat

Makro atau close-up

Meskipun kita bisa memperbesar subjek foto di kejauhan, tapi sebagian besar lensa telefoto tidak sesuai untuk memperbesar subjek dari jarak dekat (makro fotografi). Hal ini disebabkan karena banyak lensa telefoto tidak bisa fokus dekat dengan subjek foto. Solusi atas hal ini adalah memakai lensa telefoto khusus untuk fotografi makro, seperti Canon EF 100mm f/2.8 USM, atau Nikon 85mm f/3.5 DX VR.





Kedalaman fokus yang tipis

Semakin jauh rentang fokal yang digunakan, daerah yang tidak fokus di foto (latar belakang misalnya) menjadi semakin buram. Karena karakter ini, lensa telefoto banyak digunakan untuk foto potret. Karena ini bisa membuat orang yang meliat foto fokus dalam melihat subjek foto daripada latar belakang.

Efek Kompresi

Karakter lain dari lensa telefoto adalah lensa telefoto membuat foto menjadi seperti terkompresi. Latar belakang dan subjek foto sepertinya menjadi terlihat dekat, foto menjadi terlihat dua dimensi. Maka dari itu, banyak fotografer memilih lensa lebar untuk foto pemandangan karena lensa lebar membuat foto menjadi berkesan tiga dimensi.
Meskipun demikian, kadang-kadang lensa telefoto lebih baik daripada lensa lebar untuk foto pemandangan. Misalnya, lensa telefoto dapat membuat bulan atau matahari lebih besar dari pandangan mata telanjang, sehingga membuat pemandangan menjadi lebih dramatis. Lensa telefoto juga bisa membuat latar belakang seperti pegunungan menjadi lebih dekat dan lebih besar daripada sesungguhnya.


Lensa telefoto cocok untuk mengambil foto kegiatan olahraga. Penonton terlihat seperti cukup dekat, kenyataannya cukup jauh. Hal ini karena efek kompresi
Lensa telefoto cocok untuk mengambil foto kegiatan olahraga. Penonton terlihat seperti cukup dekat, kenyataannya cukup jauh. Hal ini karena efek kompresi

Potret

Seperti yang saya bahas sebelumnya, lensa telefoto cukup populer bagi foto potret, terutama foto close-up atau kepala dan bahu. Lensa telefoto bisa membuat seseorang menjadi lebih menarik, karena lensa ini bisa mengeliminasi distorsi wajah. Dan karena kedalaman fokus tipis, potret wanita menjadi menarik karena efek lembut yang ditimbulkan. Di lapangan, banyak fotografer fashion yang mengunakan lensa telefoto yang sangat panjang seperti lensa 200mm atau lebih panjang lagi.

Foto grup

Banyak orang percaya bahwa untuk mengambil foto grup, terutama yang memuat banyak orang, memerlukan lensa lebar. Tapi lensa lebar membuat distorsi terutama di pinggir foto. Menurut saya, mengunakan lensa telefoto untuk foto grup lebih baik.
Ketika kita mengambil foto grup yang berukuran besar dan bertingkat-tingkat, lensa telefoto menjadi lebih berguna karena wajah orang-orang di belakang akan terlihat kurang lebih sama besar daripada orang di depan. Bila Anda mengunakan lensa lebar, maka foto orang yang baris belakang, akan terlihat jauh lebih kecil daripada orang-orang dibaris paling depan, kecuali bila kita mengambil foto dari ketinggian.


Dengan mengunakan lensa telefoto saat mengambil foto grup, efek distorsi yang biasa terdapat di lensa lebar bisa dieliminasi.

Tantangan dalam mengunakan lensa telefoto

Akan ada beberapa tantangan saat memakai lensa telefoto. Pertama, akan lebih sulit membuat kamera dan lensa stabil sehingga foto yang dihasilkan tidak kabur/buram. Hal ini karena ukuran lensa telefoto yang relatif lebih besar dan berat dari lensa lebar. Untuk pengambilan foto yang sempurna, mungkin Anda memerlukan tripod atau meningkatkan shutter speed dan ISO sesuai dengan kebutuhan.
Tantangan kedua adalah ukuran yang besar dan berat. Akan lebih menyulitkan membawa lensa telefoto dalam perjalanan jauh. Anda juga akan menarik perhatian orang bila menenteng lensa telefoto yang panjang.
Tantangan ketiga yaitu luas lapangan. Anda memerlukan tempat yang cukup luas supaya lensa telefoto bisa berfungsi dengan baik. Misalnya, Anda memerlukan kurang lebih tiga meter bila ingin foto close-up dengan mengunakan lensa telefoto medium 85mm. Bila mengunakan lensa yang lebih panjang lagi, seperti 100 atau 200mm, Anda memerlukan ruang yang lebih besar lagi. Sebagian besar lensa telefoto juga memiliki minimum jarak fokus yang cukup jauh yaitu diatas 1 meter, kecuali lensa makro.
Kekurangan terakhir adalah harga. Banyak lensa telefoto dijual dengan harga lebih mahal dari lensa lebar terlebih untuk lensa telefoto yang berbukaan besar dan memiliki fitur peredam getar (image stabilization/vibration reduction). Parahnya, lensa telefoto lebih memerlukan fitur-fitur ini daripada lensa lebar.


Lensa super telefoto zoom buatan Sigma, 200-500mm
Lensa super telefoto zoom buatan Sigma, 200-500mm

Saya harapkan artikel ini bisa membuat kalian lebih mengerti tentang karakter lensa telefoto dan bisa mengunakan lensa telefoto lebih efektif.

Saturday, November 6, 2010

Lensa Prime / Fix vs Lensa Zoom

Lensa prime / fix adalah lensa yang memiliki rentang fokal tetap alias Anda tidak bisa mengunakan zoom. Secara umum, lensa prime memiliki kelebihan dibandingkan dengan lensa zoom antara lain:
  • Untuk lensa prime yang berukuran pendek seperti 24, 35, 50, 85mm harganya relatif lebih murah dibanding dengan lensa zoom
  • Ukuran lensa prime relatif lebih kecil dan ringan daripada lensa zoom
  • Bukaan lensa lensa prime pada umumnya beberapa kali lebih besar dari lensa zoom, sehingga lebih efektif untuk kondisi gelap. Selain itu, bukaan besar membuat depth of field menjadi tipis, sehingga efektif membuat background menjadi blur.
Untuk yang baru belajar fotografi, lensa prime lensa yan baik untuk belajar karena Anda dipaksa untuk bergerak dan mengambil sudut pandang yang lebih baik. Jika Anda mengunakan lensa zoom, besar kemungkinan Anda hanya akan mengandalkan zoom sehingga perspektif komposisi Anda kurang maksimal.


Prime lens Canon 50mm f/1.4 USM
Prime lens Canon 50mm f/1.4 USM

Mengapa lensa fix lebih baik dari lensa zoom?

Lensa fix atau prime lens, adalah lensa yang tidak bisa zoom. Jadi untuk mengkomposisikan foto baik jauh atau dekat, Anda dipaksa untuk bergerak maju mundur. Bisa dibayangkan repotnya?
Banyak yang mungkin bertanya, untuk apa lensa fix, mendingan lensa zoom, apalagi banyak lensa fix yang lumayan mahal. Ada beberapa alasan kenapa lensa fix masih banyak diminati, terutama fotografer yang berpengalaman.

1. KECIL dan RINGAN

Sebagian besar lensa fix memiliki ukuran yang lebih kecil dan ringan. Hal ini membuat Anda lebih leluasa untuk bergerak dan tidak lekas capai bila membawa kamera Anda saat perjalanan jauh.

2. BUKAAN BESAR

Sebagian besar lensa fix juga memiliki maksimal bukaan besar seperti f/1.4 dan f/1.8. Di bandingkan dengan lensa zoom standar, bukaan f/1.8 dapat mengumpulkan cahaya 4-8 kali lebih banyak (2 sampai 3 stops) sehingga ideal untuk mengambil foto di ruangan yang gelap. Selain itu bukaan yang besar memudahkan Anda untuk membuat latar belakang menjadi blur.
Lensa Nikon 35mm (50mm) sangat populer untuk kamera pemula Nikon

3. KUALITAS FOTO

Hampir semua foto yang dihasilkan oleh lensa fix lebih tajam dan lebih baik daripada foto yang dihasilkan lensa zoom. Selain itu, distorsi juga lebih terkendali.

4. BAIK UNTUK BELAJAR

Lensa fix memaksa Anda untuk bergerak dan mencari sudut pandang yang lebih baik. Sehingga hasil foto Anda bisa lebih baik.

5. FOTO CLOSE-UP / MACRO

Semua lensa makro yang bagus adalah lensa fix. Ada juga lensa zoom yang memiliki kemampuan makro, tapi sangat jauh kualitasnya dibandingkan dengan lensa fix. (Lens makro adalah lensa yang bisa mengambil foto objek yang sangat kecil sehingga terlihat sangat besar. Contoh: serangga, bunga)
Dengan kelebihan-kelebihan tersebut maka lensa fix sangat penting sebagai alat fotografi di masa lalu dan dimasa depan.


Lensa Nikon 35mm (50mm) sangat populer untuk kamera pemula Nikon
Lensa Nikon 35mm (50mm) sangat populer untuk kamera pemula Nikon

Friday, November 5, 2010

Lensa Kamera

Lensa merupakan alat vital dari kamera. Lensa sendiri mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu berfungsi menfokuskan cahaya sehingga mampu membakar medium penangkap atau film [di dalam kamera digital biasa di sebut memory]

Beberapa Contoh Lensa Kamera


Bagian Lensa Kamera terdiri dari :
-Badan Lensa
-Lensa [tergantung dari jenis]
-Cicin pengatur Diafragma [bukaan]
-Cincin Pengatur Fokus
-Cincin Panjang Fokus

Beberapa Jenis Lensa Kamera
-Fast Lens [Llensa Cepat]
-Lensa Lambat
-Macro Lens [Lensa Makro]
-Fixed Focus Lens [Lensa Fokus Tunggal]
-Soft Focus Lens [Lensa Fokus Halus]
-Parfocal Lens [Lensa Parfokal]
-Wide Angle Lens [Lensa Sudut Lebar]
-Fisheye Lens [Lensa Mata Ikan]
-Telephoto lens [Lensa Tele]
-Varifocal Lens [Lensa Variabel]
-Superzoom Lens [Lensa Super Zoom]
-Prime Lens [Lensa Tetap]
- Normal Lens [Lensa Normal]



Review Lensa Canon EF-S 18-55mm IS






Jika membeli kamera Canon, Lensa ini hampir selalu menjadi kit atau pasangannya. Lensa Canon EF-S 18-55mm IS merupakan pembaharuan dari Lensa sebelum nya, yaitu Lensa Canon 18-55mm yang diluncurkan tahun 2003. Trus apa bedanya? Bedanya adalah huruf IS di belakangnya. IS tersebut adalah Image Stabilizer, yaitu sebuah teknologi yang bisa sedikit meredam getaran pada saat melakukan pengambilan gambar.


Spesifikasi Lensa Canon EF-S 18-55mm IS :
Focal Length and Maximum Aperture :
18-55mm f3/3.5-5.6
Lens Contruction :
11 element in 9 group
Diagonal angle of view :
74 °20' - 27 °50'
Focus Adjustment :
AF (DC Motor), with manual focus option
Closest Focusing distance :
9.8 in / 0.25m
Filter size :
58mm
Max. diameter x leght, weight :
2.7 in x 3.33 in / 68.5mm x 84.5mm

Kelebihan :
- Kemampuan Optik lebih baik dari pada pendahulunya [18-55mm non IS]
- Kemampuan IS efektif
- Sangat Compact dan ringan
- Kemampuan Macro cukup bagus

Kekurangan :
- Semua konstruksi lensa terbuat dari plastik [tetapi sebenarnya tidak jadi masalah]
- Ring manual focus sangat sempit dan longgar

Canon Lens FD 55mm 1:1.2 SSC, Lensa Tua yang Banyak Diminati

Canon Lens FD 55mm 1:1.2 SSC

Lensa Canon FD 55mm f1.2 SSC ini dulu sangat populer di era kamera SLR debelum digital, namun setelah masuk ke era kamera digital, lensa ini mulai surut,..

Namun, setelah para pe ngoprek atau pemodif lensa menemukan cara agar lensa lama dapat di gunakan di kamera baru digital, lensa ini mulai naik daun, dan yang pasti harganya makin lama akan makin melambung. Yaitu dengan cara di mount ke kamera digital.

Istimewa lensa Canon FD 55 1:1.2 SSC ini adalah kata SSC nya, SSC singkatan dari Super Spectra Coating, yang pada jaman sekarang bisa disebut dengan Lensa tipe L, Memang banyak yang mengatakan Lensa era dulu yang ada SSC nya sekelas dengan lensa L pada era sekarang, bayangin saja berapa harga lensa L pada jaman sekarang, yang paling murah masih sekitar 10 jutaan,.. waduh,... mimpi neh bisa beli..>.<.

Contoh Lensa L : Canon EF 200mm f/2.0 L IS USM harga Rp.51.776.425 [Lensa SSC  sekelas lensa L]

Istilah dan Spesifikasi Lensa Canon FD 55mm 1:1.2 SSC :
- FD menandakan Lensa Manual Jaman Dulu
- SSC adalah Super Spectra Coating, sekelas lensa L Series pada jaman sekarang
- Focal Lenght : 50mm, sudah fix, lensa ini tidak dapat di zoom
- Aperture Ratio : 1:1.2
- Lens Contruction : 6 groups, 7 elements
Kelebihan Lensa Canon FD 55mm 1:1.2 SSC : 
- Sekelas Lensa L Series
- Bila Focus, Gambar Sangat Tajam
- Bokeh yang Mantap
- Sangat bagus buat pemula yang ingin belajar fotografi, karena Fokus Manual
Kekurangan Lensa Canon FD 55mm 1:1.2 SSC :
- Tidak ada Auto Fokus [menurut saya tidak masalah]
- Lensa Fix, jadi tidak ada zoom [sedikit masalah]
- Body terbuat dari besi semua, jadi riskan akan terkena serangan jamur
- Harus di mount dulu jika ingin di gunakan di Kamera DSLR
- Di Prediksi semakin lama harga semakin melambung karena sudah tidak diproduksi lagi
Harga Lensa Canon FD 55mm f1.2 ini sekarang sekitar Rp.1.500.000 sampai Rp. 2.000.000 yang sudah di mount atau di modif EOS.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...